Kelangkaan Pertalite di Tasikmalaya Berlarut, SPBU Sepi: “Mengapa Publik Diam Saja?”
Tasikmalaya- Suasana sepi dan antrean yang lenyap kini menyelimuti sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Penyebabnya adalah kelangkaan bahan bakar minyak BBM subsidi jenis Pertalite yang telah berlangsung lebih dari sepekan. Fenomena ini memaksa masyarakat berburu dari satu pom bensin ke pom bensin lainnya, hanya untuk pulang dengan tangan hampa dan terpaksa beralih ke BBM non-subsidi yang harganya lebih tinggi.

Baca Juga : Kisah SDN Curug Telu Yang Berjuang Di Tengah Keprihatinan
Kondisi ini memantik rasa penasaran sekaligus kecemasan di kalangan pengendara. Banyak yang mempertanyakan, mengapa isu strategis seperti kelangkaan BBM subsidi ini justru berlangsung sepi, tanpa gejolak berarti dari masyarakat, berbeda dengan situasi beberapa tahun silam ketika kenaikan harga BBM selalu diwarnai aksi unjuk rasa.
Perburuan Sia-Sia dan Rasa Mahal yang Terasa
Bubun Bonai (39), seorang pengendara motor, dengan jelas menggambarkan kebingungan warga. “Ini aneh, ya. Kalau dulu, harga BBM naik seribu dua ribu saja, gelombang demonstrasi langsung membanjiri jalanan. Sekarang, Pertalite hilang dari peredaran selama seminggu, kok semuanya diam saja? Malah terlihat pasrah. Apakah ini pertanda subsidi untuk rakyat kecil mulai dihapus secara perlahan?” ujarnya di SPBU Cikurubuk yang sepi.
Rasa penasaran membawanya berkeliling Kota Tasikmalaya, namun hasilnya nihil. “Dari SPBU Jalan Mangin, Cikurubuk, Cikunir, hingga Mangkubumi, semuanya sama: kosong. Penjelasan dari petugas pun seragam, sudah seminggu tidak ada pasokan. Yang membuat saya heran, kenapa isu sebesar ini tidak menjadi perbincangan hangat secara nasional?”
Keresahan serupa diungkapkan oleh Egi Norman (42), pengendara lain yang akhirnya menyerah dan mengantri untuk membeli Pertamax. Meski selisih harganya hanya sekitar Rp 2.500 per liter, dampaknya sangat terasa bagi kantong masyarakat menengah ke bawah. “Jujur, ini memberatkan. Uang Rp 20.000 yang biasanya bisa untuk dua liter Pertalite, sekarang tidak cukup untuk dua liter Pertamax. Dalam situasi ekonomi yang sudah sulit seperti sekarang, beban ini terasa sekali. Aneh, kondisi seperti ini kok sepi pemberitaan dan tidak ada gerakan protes,” keluh Egi.
SPBU Sepi, Aktivitas Menguras Hampa
Pantauan di sejumlah SPBU pada Jumat (17/10/2025) siang memperlihatkan pemandangan yang tidak biasa. Area SPBU yang biasanya ramai oleh deretan motor yang mengantri, kini terlihat lengang. Para pegawai lebih banyak terlihat berkumpul dan bercakap-cakap, hanya sesekali melayani konsumen yang membeli Pertamax atau Solar.
Situasi yang lebih parah terjadi di SPBU Jalan Mangin, Mangkubumi. Bukan hanya Pertalite, BBM jenis Pertamax pun ikut kosong. Puluhan kendaraan yang masuk, akhirnya harus berbalik keluar dengan tangki yang masih hampir kosong, menambah daftar kekecewaan warga.
Seorang petugas SPBU di Pasar Cikurubuk, yang enggan disebutkan namanya, mengonfirmasi bahwa mereka tidak menerima pasokan Pertalite selama seminggu terakhir. “Iya, sudah seminggu ini tidak ada kiriman. Kami di sini hanya menjual yang tersisa, dan itu sudah habis. Untuk alasan dan penyebab pastinya, kami juga tidak mendapat informasi jelas dari pihak distributor,” ujarnya singkat.
Di Balik Kelangkaan: Sebuah Tanda Tanya Besar
Kelangkaan Pertalite yang berkepanjangan di Tasikmalaya ini meninggalkan sejumlah pertanyaan kritis. Apakah ini merupakan gangguan distribusi sementara, ataukah bagian dari sebuah transisi kebijakan yang lebih besar? Keheningan dan ketiadaan respons resmi yang cepat justru memicu spekulasi dan kekhawatiran akan adanya pengetatan atau bahkan penghentian subsidi secara bertahap.
Ketidakpastian ini, ditambah dengan beban ekonomi yang kian berat, membuat warga seperti Bubun dan Egi merasa terjepit. Diamnya publik bukan berarti persetujuan, melainkan mungkin sebuah bentuk kelelahan atau frustrasi karena merasa suaranya tidak lagi didengar. Fenomena di Tasikmalaya ini bisa menjadi cerminan untuk daerah lain, sebuah potret betapa isu ketahanan energi bagi masyarakat kecil tetap menjadi persoalan sensitif yang menunggu jawaban dan solusi nyata dari pihak berwenang.





