Jeritan Hati dari SDN Curug Telu: Kisah Pilu Sekolah yang Hampir Runtuh dan Upaya Perbaikan yang Berjalan
Tasikmalaya- Di balik kemeriahan anak-anak seusianya yang berseragam rapi, ada keprihatinan mendalam yang terpancar dari mata para siswa Kisah SDN Curug Telu, Desa Bojongsari, Culemga, Kabupaten Tasikmalaya. Bangunan sekolah mereka bukan lagi sekadar tua; ia nyaris menjadi reruntuhan. Dinding-dindingnya retak, atapnya bocor membahayakan, dan ruang belajarnya lebih mirip kandang hewan yang tak terurus. Kondisi yang memaksa aktivitas belajar mengajar terhenti selama dua tahun terakhir. Tak tahan dengan keadaan, dengan keberanian yang luar biasa, mereka pun menyampaikan keluhan hati mereka langsung kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melalui sebuah pesan di media sosial.

Baca Juga : Gelombang Kehebohan Di Tasikmalaya, Pungli Serang Program Gizi untuk Bayi Dan Ibu Hamil
Jeritan hati mereka tidaklah sia-sia. Dalam waktu singkat, Gubernur Dedi Mulyadi merespons dengan membuat video balasan yang diposting di akun media sosial pribadinya. Dengan wajah penuh empati, ia menyapa murid-murid SDN Curug Telu dengan lembut. “Buat adik-adiku yang cantik, anak-anaku sayang,” ujarnya, “sebenarnya pembangunan Sekolah Dasar menjadi kewajiban Bupatinya.” Namun, ia tak menutup mata. Dedi mengakui bahwa kepentingan dan masa depan anak-anak adalah hal yang utama. Ia berjanji untuk turun tangan. “Tapi, kalau itu memang mendesak dan mencakup kepentingan anak-anak di Jawa Barat, tidak terlalu lama tim saya akan datang ke situ. Mereka akan melihat dan menghitung berapa biaya yang dibutuhkan untuk membangun sekolah yang sudah dua tahun tidak bisa dihuni,” janjinya penuh tekad.
Sebuah Permasalahan Besar yang Tak Bisa Dipikul Sendiri
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya tidak tinggal diam. Mereka menyadari betul bahwa SDN Curug Telu hanyalah satu dari sekian banyak titik masalah dalam peta pendidikan di wilayahnya. Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, beserta jajarannya telah berulang kali bolak-balik ke Jakarta untuk memperjuangkan program revitalisasi ruang kelas rusak. Upaya gigih ini akhirnya membuahkan hasil. “Ini juga kami tidak diam. Malahan Pak Kadis dan Pak Bupati juga sampai ke Kementerian meminta revitalisasi sekolah diperbanyak. Alhamdulillah, nambah kan jadi 53 bangunan sekolah yang dapat,” ujar Kabid SD Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, Ahmad Solihin, dengan nada lega.
Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al-Ayubi, juga aktif membangun komunikasi dengan pemerintah pusat. Ia menjelaskan bahwa langkah ini adalah wujud nyata komitmen pemda, meski beban yang dipikul sangatlah berat. “Hari ini kami bertemu dengan pihak kementerian untuk membahas peluang bantuan revitalisasi ruang kelas rusak di Tasikmalaya. Ini bagian dari upaya kami agar fasilitas pendidikan bisa segera diperbaiki,” tegas Asep.
APBD Terbatas, Jumlah Sekolah Rusak Melimpah
Mengapa bantuan pusat begitu krusial? Asep Sopari Al-Ayubi memaparkan data yang mencengangkan. Saat ini, Kabupaten Tasikmalaya menaungi sekitar 1.062 Sekolah Dasar (SD) dan lebih dari 300 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dari jumlah sebanyak itu, ratusan di antaranya membutuhkan perbaikan serius. “Jika hanya mengandalkan APBD, tentu tidak akan cukup untuk memperbaiki semua ruang kelas yang rusak. Karena itu, kami berupaya mencari dukungan tambahan dari pemerintah pusat,” jelasnya dengan jujur. Pengakuan ini bukanlah bentuk pelemparan tanggung jawab, melainkan realitas pahit yang harus dihadapi oleh banyak daerah dengan sumber daya terbatas.
Sebuah Harapan di Tengah Perjuangan Panjang
Meski tantangan besar menghadang, ada secercah harapan yang patut disyukuri. Tahun ini, berkat kolaborasi antara pemda dan pusat, lebih dari 150 sekolah dasar di Tasikmalaya telah menerima bantuan revitalisasi ruang kelas. Angka ini adalah pencapaian yang signifikan, sebuah langkah maju yang konkret. Namun, perjuangan belum usai. Untuk setiap sekolah yang diperbaiki, masih banyak lagi seperti SDN Curug Telu yang menunggu uluran tangan.
“Kami akan terus berikhtiar agar lebih banyak sekolah mendapatkan bantuan di tahun-tahun berikutnya,” pungkas Asep dengan penuh semangat. “Harapan kami, seluruh sekolah di Kabupaten Tasikmalaya bisa memiliki ruang belajar yang layak, aman, dan nyaman bagi siswa. Setiap anak Tasikmalaya berhak merasakan belajar dalam lingkungan yang mendukung mimpi dan masa depan mereka.”
Kisah SDN Curug Telu adalah pengingat keras bahwa di balik angka-angka statistik, ada wajah-wajah polos anak bangsa yang haus akan pendidikan yang layak. Respon cepat dari para pemimpin dan upaya berkelanjutan yang dilakukan memberikan keyakinan bahwa jeritan hati mereka tidak akan lagi bergema di ruang kelas yang kosong dan lapuk, tetapi akan dijawab dengan bangunan baru yang kokoh, tempat di mana mimpi-mimpi mereka kembali dibangun.





